KEDWIBAHASAAN - Novia Fransiska
TUGAS
BLOG KEDWIBAHASAAN

Nama : Novia
Fransiska
Npm : 191214009
Mata kuliah :
Kedwibahasaan
Semester : 7A
Prodi : PBSI
A. Asal usul kedwibahasaan
Istilah kedwibahasaan, yang dalam bahasa Inggrisnya bilingualism,
telah diperbincangkan
oleh sejumlah ilmuwan bahasa. Mereka mengajukan pengertian atau batasan tentang
kedwibahasaan itu menurut pandangan mereka masing-masing. William F. Mackey
merangkum sejumlah pengertian kedwibahasaan, sebagai berikut:
Pada waktu dulu, konsep kedwibahasaan dipandang sebagai the equal mastery of
two languages (penguasaan yang sama terhadap dua bahasa); definisi ini masih
diketemukan dalam kamus-kamus linguistik tertentu. Bloomfield memberikan konsep
kedwibahasaan sebagai “the native-like control of two languages (penguasaan dua
bahasa yang sama antara bahasa asli dan bahasa yang lain)”. Konsep ini
diperluas oleh Haugen menjadi kemampuan menghasilkan “complete meaningful
utterances in the other language” (ungkapan-ungkapan yang bermakna dan sempurna
dalam bahasa lain). Akan tetapi, sekarang disarankan bahwa konsep kedwibahasaan
itu diperluas lagi dengan memasukkan “passive knowledge” (pengetahuan pasif)
bahasa tulis atau setiap “ contact with possible models in a second language
and the ability to use these in the environment of the native language” (kontak
dengan model model-model dalam bahasa kedua dan kemampuan menggunakan
model-model itu dalam lingkungan bahasa asli). Perluasan konsep kedwibahasaan
ini, menurut Mackey, karena kenyataan bahwa titik tolak seseorang penutur
bahasa kedua menjadi dwibahasawan bersifat arbriter dan tidak mungkin
ditentukan. Lebih dari itu, kita harus memasukkan tidak hanya dua bahasa, akan
tetapi sejumlah bahasa. Oleh karena itu, kita akan memandang kedwibahasaan
sebagai “the alternate use of two or more languages by the same individual”
(penggunaan dua bahasa atau lebih secara bergantian oleh individu yang sama)
(Fishman, ed., 1972:555).

- Manfaat mengetahui asal usul kedwibahasaan
Sangatlah
penting bagi kita adanya dwibahasa yaitu itu alat untuk pemersatu bangsa
artinya dengan kita mengenal bahasa asing pada saat kita berlibur ke negara
lain kita dapat berbicara dengan orang yang tinggal di negara tersebut. Selain
itu pentingnya dwibahasa untuk mendapatkan kesejajaran mutu pendidikan, baik pada
lingkup nasional maupun internasional. Dwibahasa dapat digunakan seseorang
untuk bekerja seperti menjadi tourguide, dimana seseorang tersebut menjadi
pendamping turis menjelaskan tentang keadaan turis tersebut berada. Dwibahasa
dapat juga digunakan untuk memperluas wawasan dan lebih jauh lagi memepunyai
peluang bekerja yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang hanya menguasai
satu bahasa saja.
Terdapat
beberapa manfaat dari kedwibahasaan, antara lain:
1. Penggunaan
bilingual dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sehingga dapat berkomunikasi
dengan menggunakan dua bahasa yang dipelajari atau bahasa yang biasa digunakan
oleh orang dilingkungannya.
2. Penggunaan
bilingual membantu seseorang mengenal budaya asing, karena setiap bahasa
berjalan dengan sistem perilaku dan budaya yang berbeda. Dengan mengenal
bahasa, seseorang dapat mengenal budaya dari bahasa tersebut, juga menumbuhkan
sikap toleransi terhadap orang lain yang memiliki budaya berbeda.
3. Penggunaan
bilingual mengembangkan kemampuan berpikir seseorang menjadi kreatif dan
memiliki dua atau lebih kata-kata untuk setiap obyek dan ide, juga membuat
seseorang lebih hati-hati dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda
bahasa.
4. Penggunaan
bilingual dapat menumbuhkan dan menaikkan rasa percaya diri pada seseorang,
karena dengan menguasai dua bahasa seseorang lebih berani untuk berkomunikasi
dan tetap merasa aman dalam lingkungan yang menggunakan duabahasa yang dipahami
olehnya.
5. Penggunaan bilingual akan memudahkan seseorang mempelajari bahasa yang ketiga, ketika orang itu sudah menguasai dua bahasa.
- Bergunakah materi asal usul kedwibahasaan kehidupan
pada sehari-hari
Ada
beberapa peranan dari kedwibahasaan kehidupan pada sehari-hari, antara lain:
1.
Sebagai alat komunikasi
2.
Sebagai alat penyampai rasa santun
3.
Sebagai alat penyampaian rasa keakraban
4.
Sebagai alat pengenalan diri
5.
Sebagai alat penopang kemandirian bangsa
6.
Sebagai cermin kepribadian bangsa
· · Keterkaitan materi asal usul kedwibahasaan dengan profesi anda nantinya
B. Diglosia dalam kedibahasaan
Istilah diglosia pertama kali dikemukakan oleh seorang
guru besar bahasa Inggris di Texas
pada tahun tiga
puluhan, kemudian tidak
terdengar lagi sampai
tahun enam puluhan.
C.A. Ferguson memperkenalkan kembali dan sejak itu istilah diglosia
menjadi sangat populer.Istilah diglosia dimaksudkan untuk memberi gambaran
peristiwa karena dua variasi dari satu bahasa
hidup berdampingan di
dalam masyarakat dan
masing-masing mempunyai peran tertentu. Istilah tersebut diangkat
dari bahasa Prancis (diglosse) untuk menggambarkan situasi bahasa di sana.
Dalam bahasa Inggris istilah ini tidak dikenal yang ada hanyalah (bilingulism),
tetapi istilah tersebut dianggap kurang tepat, sebab peristiwanya berbeda
(Swito, 1983: 45).
Diglosia adalah berlangsungnya
penggunaan dua ragam bahasa dalam satu bahasa, bahasa tinggi dipakai
dalam suasana resmi
dan dalam wacana
tertulis, sedangkan bahasa
rendah digunakan dalam percakapan sehari-hari. Diglosia merupakan
persoalan antara dua dialek dalam satu
bahasa, bukan antara
dua bahasa. Dalam
masyarakat ujaran tertentu,
para penutur menggunakan dua
ragam bahasa atau
lebihdalam kondisi tertentu.
Suasanalah yang menghendaki
lahirnya ragam bahasa tertentu bukan yang lainnya. Kedua ragam bahasa ini pada
umumnya adalah bahasa baku (standard language) dan dialek daerah (regional
dialect). Dalam lingkungan keluarga di
rumah atausesama teman,
mereka menggunakan dialek
setempat. Namun, sewaktu berbicara dengan penutur dalam suasana umum
mereka menggunakan bahasa baku.Dalam pembicaraan tentang diglosia, pemakaian
bahasa dalam suasana resmi dapat dijadikan suatu indikator tingginyastatus
bahasa dibandingkan dengan dialek lainnya. Bahasa baku disebut ragam bahasa
tinggi sedangkan dialek lainnya disebut ragam rendah. Namun, diglosia bukanlah
suatu faktor menuju kepada tahap perkembangan bahasa untuk mencapai pembakuan.

· · Manfaat mengetahui diglosia dalam kedibahasaan
untuk menyebut suatu masyarakat yang mengenal dua bahasa atau lebih untuk berkomunikasi antara anggotanya. Selanjutnya, disebutkan juga bahwa diglosia dipergunakan untuk melukiskan kedaan masyarakat yang terdiri atas suatu bangsa tetapi menggunakan dua bahasa atau dua logat yang baerlainan. Dari pernyataan di atas, tampak bahwa diglosia tidak lagi terbatas pada pemakaian dua variasi dari satu bahasa di dalam suatu masyarakat tetapi termasuk juga pemakaian dua bahasa atau lebih, atau pemakaian dua dialek (logat) dalam masyarakat yang sama.
· · Bergunakah materi diglosia pada kehidupan anda sehari-hari
peristiwa yang
menyangkut pemakaian
dua bahasa yang
dipergunakan oleh seseorangatau sekelompok
orang di dalam suatu masyarakat,
maka antara kedua peristiwa itu tampak adanya hubungan timbal-balik yang mewarnai sifat
masyarakat tuturnya.Suatu
ciri masyarakat diglosia
adalah adanya spesialisasi
fungsi yang berbeda
dari kedua ragam bahasa tinggi dan
rendah. Pemakaian ragam yang tepat pada situasi yang tepat adalah penting agar
proses komunikasi berjalan
lancar. Seperti yang
diketahui bahwa bahasa
baku adalah bahasa yang diajarkan bagi orang asing.
Bila orang tersebut menggunakan bahasabaku (tinggi) dalam suasana
santai (karena belum tahu), maka hal tersebut bisa jadi objek lelucon. Dan sebaliknya,
jika seseorang menggunakan
bahasa rendah dalam
suasana resmi akan
jadi objek cemoohan orang banyak.
· · Kerugian bila anda tidak mengetahui materi diglosia dalam kedibahasaan
· Keterkaitan materi diglosia dalam kedibahasaan dengan profesi anda nantinya
Materi
diglosia dalam kedwibahasaan ini sangat berkaitan dalam berkomunikasi dengan
dua bahasa yang berbeda .emakaian ragam yang tepat pada situasi yang tepat adalah
penting agar proses
komunikasi berjalan lancar.
Seperti yang diketahui
bahwa bahasa baku adalah bahasa yang diajarkan bagi orang
asing
· C. Konsep, faktor dan pendekatan kedwibahasaan
1. Konsep dan Kategori Pemilihan
Bahasa
Masyarakat dwibahasa (bilingual) yang berbicara
menggunakan dua bahasa harus memilih bahasa yang digunakan dalam bertutur.
Pemilihan bahasa menurut Fasold (dikutip Chaer dan Agustina, 2004:203) tidak
sesederhana yang kita bayangkan, yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan
(whole language) dalam suatu peristiwa komunikasi. Kita membayangkan seseorang
yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia
gunakan. Misalnya, seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus
memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang
lain dalam peristiwa komunikasi. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori
pemilihan. Pertama, dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra
language variation). Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang
lain dengan menggunakan bahasa Jawa krama, misalnya, maka ia telah melakukan
pemilihan bahasa kategori pertama ini.
2. Faktor Pemilihan
Bahasa
Pemilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat
dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan
budaya. Evin-Tripp (dikutip Rokhman, 2007:3)
mengidentifikasikan empat faktor utama sebagai penanda pemilihan bahasa
penutur dalam interaksi sosial, yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan
situasi; (2) partisipan dalam interaksi, (3) topik percakapan, dan (4) fungsi
interaksi. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan
keluarga, rapat di kelurahan, selamatan kelahiran di sebuah keluarga, kuliah,
dan tawar-menawar barang di pasar.
Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia, jenis
kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, dan perannnya dalam hubungan dengan
lawan tutur. Hubungan dengan lawan tutur dapat berupa hubungan akrab dan
berjarak. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan, keberhasilan
anak, peristiwa-peristiwa aktual, dan topik harga barang di pasar. Faktor
keempat berupa fungsi interaksi seperti penawaran, menyampaikan informasi,
permohonan, kebiasaan rutin (salam, meminta maaf, atau mengucapkan terima
kasih).

Dari paparan berbagai
faktor di atas, yang perlu diperhatikan bahwa tidak terdapat faktor tunggal
yang dapat mempengaruhi pemilihan bahasa seseorang. Hal ini membuktikan bahwa
karakteristik penutur dan lawan tutur merupakan faktor yang paling menentukan
dalam pemilihan bahasa dalam suatu masyarakat, sedangkan faktor topik dan latar
merupakan faktor yang kurang menentukan dalam pemilihan bahasa dibanding faktor
partisipan.
3. Pendekatan Pemilihan Bahasa
Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (dikutip Chaer dan
Agustina, 1995:205) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan, yaitu
pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial, dan pendekatan antropologi.
Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut.
a) Pendekatan Sosiologi
Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah
(domain). Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). Pendekatan
sosiologi melihat adanya konteks institutional tertentu (domain) yang terkait
dengan dwibahasa yang terdiri dari domain formal dan domain informal. Ranah
(domain) didefinisikan sebagai konsep sosiokultural yang diabstraksikan dari
topik komunikasi, hubungan peran antar komunikator, tempat komunikasi di dalam
keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur.
Di sisi lain, ranah juga adalah
konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada
pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama, misalnya
keluarga, ketetanggaan, agama, dan pekerjaan. Sebagai contoh, apabila
penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah
topik, maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Pendek kata,
bahasa rendah (low) yang cenderung dipilih dalam domain keluarga, sedangkan
bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal, seperti pendidikan
dan pemerintahan.
b) Pendekatan Psikologi Sosial
Berbeda dengan pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi
sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat
luas. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu, seperti motivasi
individu, daripada berorientasi pada masyarakat. Pendekatan psikologi sosial
melihat proses psikologi manusia, seperti motivasi dalam memilih suatu bahasa
atau ragam dari suatu bahasa untuk digunakan pada keadaan tertentu.
Herman (dikutip Rokhman, 2007:7) mengemukakan teori situasi
tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. Menurut
Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi
psikologis. Herman membicarakan tiga jenis situasi. Situasi pertama berhubungan
dengan kebutuhan personal penutur (personal needs), kedua situasi lain
berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping), yaitu situasi latar
belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation).
Pertama, satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang
ada pada pribadi, yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa
yang paling dikuasainya); situasi lain berkaitan dengan norma-norma kelompoknya
yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin
belum dikuasainya secara baik). Di sini terjadi konflik antara kebutuhan
pribadi dan tuntutan kelompok. Kedua, dalam penentuan bahasa yang akan
digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face
to face), akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar.
Dengan kata lain, seorang penutur mungkin tidak mengalami
kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk
menyesuaikan dengan orang lain, dan ada penutur yang dengan sengaja memilih
bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak
berbicara. Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya
pada kelompoknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok lawan bicara.
Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang
berbicara dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris
dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya.
c) Pendekatan Antropologi
Dari pandangan antropologi, pilihan bahasa
bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilai-nilai sosial
budaya. Seperti juga psikologi sosial, antropologi tertarik dengan bagaimana
seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Perbedaannya adalah
jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur.
Pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan
pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold dikutip
Rokhman, 2007:9).
Pendekatan antropologi dapat memberikan perspektif
penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur dalam
sebuah kelompok. Implikasi dari pendekatan ini, yang mengarah kepada peneliti
sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala
pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa di Indonesia.

· Manfaat mengetahui Konsep, faktor dan pendekatan kedwibahasaan
bermanfaat
dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat
dwibahasa di Indonesia. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau
ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab
kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat
kerugian bagi peserta komunikasi itu. Ada beberapa cara mengukur kemampuan
kedwibahasaan seseorang, baik dari waktu dan kecepatan reaksi, serta
kecenderungan pemilihan bahasa.
· Bergunakah materi Konsep, faktor dan pendekatan kedwibahasaan
Berguna
untuk Kemampuan yang dimiliki baik
secara aktif-produktif maupun secara reseptif apa yang dituturkan orang lain.
Pembagian kedwibahasaan berdasarkan tipologi kedwibahasaan terdiri dari
kedwibahasaan majemuk, koordinatif/sejajar dan subordinatif/kompleks. Tidak
terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pemilihan bahasa
seseorang. Hal ini membuktikan bahwa karakteristik penutur dan lawan tutur
merupakan faktor yang paling menentukan dalam pemilihan bahasa dalam suatu
masyarakat.
· Kerugian bila anda tidak mengetahui Konsep, faktor dan pendekatan kedwibahasaan
kedwibahasaan
atau bilingual sebagai salah satu dari masalah kebahasaan terus mengalami
perkembangan. Hal ini disebabkan oleh, titik pangkal pengertian kedwibahasaan
yang bersifat nisbi (relatif). Kenisbian demikian terjadi karena batasan
seseorang untuk bisa disebut sebagai dwibahasawan bersifat arbitrer, sehingga
pandangan tentang kedwibahasaan berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Untuk dapat menggunakan dua bahasa
tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya
sendiri atau bahasa pertamanya (disingkat B1), dan yang kedua adalah bahasa
lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2). Orang yang dapat menggunakan
kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut
juga dwibahasawan), sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut
bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan).
· Keterkaitan materi Konsep, faktor dan pendekatan kedwibahasaan dengan profesi
anda nantinya
bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat dwibahasa di Indonesia. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi.
D. Faktor kebahasaan dan non kebahasaan
· Faktor Kebahasaan
Faktor kebahasaan yaitu faktor-faktor yang menyangkut masalah bahasa yang seharusnya dipenuhi pada waktu seseorang berbicara. Berikut ini pembahasan satu persatu tentang faktor-faktor kebahasaan tersebut :
1. Ketepatan Ucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar, kebosanan dan kurang menyenangkan. Sudah tentu pula ucapan dan artikulasi yang kita gunakan tidak selalu sama, masing-masing mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaran, perasaan dan sasaran.
2. Penempatan Tekanan, Nada, dan Durasi yang Sesuai
Kesesuaian tekanan, nada, sendi, dan durasi akan merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara. Bahkan kadang-kadang merupakan faktor-faktor penentu walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai. Akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar-datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.
3. Diksi atau Pilihan Kata
Dalam pemilihan kata hendaknya tepat, jelas dan
bervariasi: jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar, misalnya kata-kata
populer tertentu lebih efektif dari pada kata-kata muluk-muluk. Kata-kata yang
belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun akan menghambat
kelancaran komunikasi. Selain itu hendaknya pilih kata-kata yang konkret
sehingga mudah dipahami pendengar.
1. 4. Ketepatan Sasaran Pembicaraan
Semua ini menyangkut kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Susunan penuturan kalimat ini sangat besar pengaruhnya terhadap keefektifan penyampaian. Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran, sehingga mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan atau menimbulkan akibat

· Faktor Nonkebahasaan
1.
Sikap yang Wajar,
Tenang, dan Tidak Kaku
Sikap yang wajar oleh pembicara sudah dapat
menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Tentu saja sikap ini sangat banyak
ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi. Penguasaan materi yang
baik, akan menghilangkan kegugupan dan sikap ini juga memerlukan latihan.
2.
Pandangan harus
diarahkan kepada lawan bicara.
Banyak pembicara kita saksikan berbicara tidak
memperhatikan pendengar, tetapi melihat keatas, kesamping, atau menunduk.
Akibatnya perhatian pendengar berkurang. Hendaknya diusahakan supaya pendengar
merasa terlibat dan diperhatikan.
1.
Kesediaan
Menghargai Pendapat Orang Lain
Seorang pembicara hendaknya dalam menyampaikan isi pembicaraan memiliki sikap terbuka dalam arti dapat menerima pendapat pihak, bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru. Selain itu juga harus mampu mempertahankan pendapatnya yang mana mengandung argumentasi yang kuat dan betul-betul diyakini kebenarannya.
2.
Gerak-gerik dan
Mimik yang Tepat
Gerakan-gerakan dan mimik yang tepat dapat pula
menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal yang penting selain mendapat tekanan,
biasanya juga dibantu dengan gerak tangan atau mimik hal ini dapat menghidupkan
komunikasi. Tetapi gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan
berbicara sehingga kesan kurang dipahami.
3.
Kenyaringan Suara
Tingkat kenyaringan ini disesuaikan dengan situasi,
tempat, jumlah pendengar dan akustik tetapi perlu diperhatikan jangan
berteriak. Kita antara kenyaringan suara kita supaya dapat didengar oleh semua
pendengar dengan jelas, dengan juga memuat kemungkinan gangguan dari luar.
4.
Kelancaran
Kelancaran berbicara akan memudahkan pendengaran
menangkap isi pembicaraannya. Selain itu berbicara yang terputus-putus bahkan
menyelipkan bunyi ee, oo, aa dapat mengganggu penangkapan pendengaran, dan
sebalikya pembicara yang terlalu cepat berbicara juga akan menyulitkan
pendengar menangkap pembicaraanya.
5.
Relevansi atau
Penalaran
Proses berfikir untuk sampai pada suatu kesimpulan
haruslah logis yang meliputi berbagai gagasan. Hal ini berarti hubungan
bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan
berhubungan dengan pokok pembicaraan.
6.
Penguasaan Topik
Dalam pembicaraan formal selalu menuntut persiapan.
Tujuannya tidak lain supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Pengusaan
topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi penguasaan
topik ini sangat penting bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara.
· Manfaat Faktor kebahasaan dan non kebahasaan
Banyak
manfaat yang akan kita dapatkan dalam bercerita, tetapi perlu di ingat juga
banyak faktor-faktor yang mempengaruhi, sehingga perlu untuk diperhatikan dalam
bercerita. Faktor yang harus dipenuhi untuk penunjang keefektifan bercerita
adalah faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Seorang pencerita yang baik harus
memperhatikan (1) ketepatan ucapan, (2) penempatan tekanan nada, sendi, dan
ritme sesuai, (3) pilihan kata yang tepat, jelas, dan bervarisi, dan (4)
ketepatan sasaran pembicaraan. Faktor nonkebahasaan yaitu berkaitan perilaku
tingkah laku bercerita yaitu (1) sikap wajar tenang, dan tidak kaku, (2)
pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara, (3) ketersediaan menghargai
pendapat orang lain, (4) gerak-gerik dan mimik yang tepat, (5) kenyaringan
suara, (6) kelancaran 3 berbicara, (7) relevansi atau penalaran, (8) dan
penguasaan topik (Arsjad dan Mukti 1988: 17)
· · Bergunakah materi Faktor kebahasaan dan non kebahasaan
Berguna
untuk dapat menjadi pembicara yang baik, seorang pembicara selain menguasai
masalah yang dibicarakan juga harus memperlihatkan keberanian dan kegairahan.
Pembicara harus berbicara dengan jelas dan tepat. Dalam hal ini ada beberapa
aspek yang harus diperhatikan oleh pembicara untuk keefektifan dalam berbicara,
yaitu aspek kebahasaan dan aspek non kebahasaan.
1. 1. Aspek kebahasaan
a) Ketepatan
ucapan: Artinya pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa
secara tepat.
b) Penempatan
tekanan yang dalam bahasa Indonesia ini sangat penting.
c) Pilihan
kata (diksi), meskipun tidak mengubah arti hendaknya tepat, jelas dan
bervariasi.
d) Ketepatan sasaran pembicaraan , yaitu dengan menggunakan kalimat efektif.
2. Aspek Non Kebahasaan
Dalam
pembicaraan yang bersifat formal aspek non kebahasaan sangat diperlukan, karena
penguasaan aspek non kebahasaan akan mempermudah penerapan aspek kebahasaan.
Adapun yang termasuk aspek non kebahasaan adalah:
1) Sikap
yang wajar, tenang dan tidak kaku
2) Pandangan
mata yang terarah kepada lawan bicara Tujuan akhir pembelajaran bahasa adalah
mengembangkan kemampuan komunikatif yakni kemampuan seseorang untuk tidak hanya
menggunakan kaidah-kaidah bahasa agar dia dapat menyusun kalimat-kalimat secara
gramatikal tetapi juga dapat menggunakan kalimat-kalimat itu untuk
berkomunikasi secara kontekstual.
Ada lima ( 5 ) unsur pembentuk kemampuan
komunikatif yaitu :
a) Penguasaan
gramatikal, yaitu penguasaan terhadap kaidah-kaidah bahasa yang membuat orang
itu mampu membedakan mana kalimat yang benar dan mana yang salah.
b) Kemampuan sosiolinguistik, yaitu kemampuan untuk menggunakan bahasa secara
tepat sesuai dengan konteksnya.
c) Kemampuan
psikolinguistik, yaitu kemampuan menggunakan bahasa sesuai dengan psikis.
d) Kemampuan
wacana, yaitu kemampuan menggunakan bahasa dalam wacana atau konteks tertentu.
e) Kemampuan
strategis, yaitu kemampuan seseorang untuk membuat agar komunikasi berjalan
dengan lancar atau komunikasi tidak macet
· · Kerugian bila anda tidak mengetahui Faktor kebahasaan dan non kebahasaan
- kurangnya kemampuan dalam berbicara untuk berkomunikasi dalam menyampaikan wacana atau konteks, sehingga komunikasi tidak berjalan dengan lancar.
· · Keterkaitan materi Faktor kebahasaan dan non kebahasaan
Materi kebahasaan dan non kebahasaan ini sangat banyak manfaat yang akan kita dapatkan dalam bercerita, tetapi perlu di ingat juga banyak faktor-faktor yang mempengaruhi, sehingga perlu untuk diperhatikan dalam bercerita. Faktor yang harus dipenuhi untuk penunjang keefektifan bercerita. Berguna untuk dapat menjadi pembicara yang baik, seorang pembicara selain menguasai masalah yang dibicarakan juga harus memperlihatkan keberanian dan kegairahan. Pembicara harus berbicara dengan jelas dan tepat.
GAK ADA KATA TERLAMBAT BUAT BELAJAR😊
email : noviafranssisska@gmail.com
Instagram : Noviafransiska53

Bagus dan sangat bermanfaat
BalasHapusKeren dan bagus
BalasHapusKeren👍
BalasHapusTerima kasih👍, sangat bermanfaat
BalasHapusPenjelasannya mudah di pahami
BalasHapusTerima kasih sangat membantu 👍
BalasHapusBagus dan menarik
BalasHapusBagus dan sangat bermanfaat sekali
BalasHapusBagus dan menarik
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus dan sangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat 🥰
BalasHapusSangat mudah dipahami penjelasanya 👍
BalasHapussangat inovatif
BalasHapussangat bermanfaat. Terima kasih
BalasHapus